Aku masih harus berdiri di belakang sebelum menarik ongkos bus ke para penumpang. Seperti biasa, nanti aku akan menarik uang dari belakang ke depan. Karena masih hari raya,ongkos tarif sampai tanjung perak masih Rp.5.000,-, lebih seribu rupiah dari yang biasanya Rp.4000,-. Lalu tak sengaja aku melihat gadis itu lagi, jilbab abu-abunya tidak terlalu nampak mencolok, tapi kentara sekali kalau itu gadis yang tadi walau hanya dari belakang. Orang berada pastinya,aku juga ingat baunya harum sekali, seperti bedak bayi tapi lebih manis.
Kembali aku perhatikan gadis itu,entah mengapa aku merasa harus memperhatikannya. Mungkin karena dia terlihat lugu dan nampak baru pertama kali naik bus kota, aku seolah takut hal buruk menimpanya. Dia duduk didekat jendela sebelah kiri,bangku ketiga dari depan. Aku sedikit lega karena gadis itu bersebelahan dengan seorang ibu-ibu. Setidaknya bukan laki-laki atau pencopet yang aku tau ada didalam bus ini sedang mengincar mangsa. Pasti gadis itu bisa jadi sasaran empuk yang sangat mudah.
Bus ini sudah sampai tol dan sekarang waktunya menarik ongkos bus. Aku mulai dari orang – orang yang duduk di bangku belakang, sebagian ada yang masih keberatan karena ongkosnya belum turun juga.
“Setorannya juga belum turun pak..” kataku berkilah. Aku tetap menarik ongkos sesuai dengan tarif yang berlaku,tidak peduli dengan protes mereka.
Akhirnya aku sampai didekat gadis itu,aku ingin melihatnya dari dekat sekedar ingin tau ekspresinya. Aku perhatikan dengan diam-diam, sambil menghitung uang kembalian. Dia memegang sesuatu didadanya, bungkusan HP berwarna ungu. Pasti karena takut dicopet orang,jadi dia sampai merasa harus mendekapnya seperti itu. Gadis itu juga membawa bungkusan dipangkuannya,kresek putih dengan gambar sebuah mini market. Kelihatannya dia habis membeli botol minuman dan beberapa jajanan,entah mau pergi kemana sampai harus membawa bekal segala. Sebentar –sebentar dia melihat HPnya, melihat jam atau menunggu balasan sms dari seseorang, pikirku.
Aku masih memperhatikan gadis itu sambil menarik ongkos dari penumpang lain. Ada sedikit rasa bangga aku bisa memecah konsentrasi dan masih bisa fokus seperti ini. Diusia setengah abad sepertiku,melakukan kegiatan bersamaan bukan hal yang mudah. Aku memperhatikan gadis itu bukan karena tertarik dengannya,bukan itu. Memang dia lumayan manis,kulitnya putih,terlihat sedikit lugu tapi nampak berpendidikan dengan kaca matanya itu. Tapi aku tidak tertarik padanya,aku bukan kakek – kakek yang sedang puber kedua. Ada hal lain yang membuatku terus memperhatikannya,entah mengapa aku penasaran dan terkesan ingin melindungi gadis itu.
Aku semakin dekat dengannya,tinggal dua bangku lagi. Dia mengeluarkan tisu dari tasnya lalu mengelap wajahnya. Aneh,tidak mungkin dia kepanasan. Beberapa kali aku perhatikan dia tampak menggigil kedinginan,sepertinya jaket yang dipakainya tidak terlalu tebal. Kaca disebelahnya tertutup,kelihatannya gadis itu yang menutupnya sendiri. Tapi kaca-kaca lain masih terbuka dan di dalam sedikit dingin karena angin mudah masuk,jadi tidak mungkin dia berkeringat karena kepanasan. Aku menduga dia kelilipan,karena ternyata tisu itu ditempelkan dimatanya.
Akhirnya aku sampai juga di deretan bangku gadis itu,sengaja aku menarik dulu dari bagian kanan untuk memberinya waktu mengambil uang didompetnya. Saat aku hendak menarik ongkos bus padanya, gadis itu bertanya “Berapa pak?”. Aku sedikit kaget,tidak salah memang gadis ini baru pertama kali naik bus kota. “Lima ribu mbak” kataku. Dia mengeluarkan uang 3 lembar Rp.2.000,-. Masih baru dan licin,nomor serinya pun berurutan. Uang dari angpau hari raya sepertinya,aku sedikit geli memegang uang ini. Jarang ada orang yang mau membayar dengan uang baru,biasanya uang mereka sudah kumel dan kucel.
Tapi kuterima uangnya dan mengembalikan kembalian seribu rupiah dalam bentuk logam receh Rp.500,- dua buah. Rasanya tak tega memberi gadis ini uang seribuan yang kupunya. Tapi dia bahkan tak melihat uang kembalian pemberianku, dia menerima dan langsung menaruhnya di saku jaketnya. Aku bisa saja memberinya batu atau kertas, dan dia tak kan menyadarinya. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis ini, tapi hatiku sempat merasa iba dan ikut bersedih saat melihatnya. Apapun yang dipikirkannya ternyata membuat dia meneteskan air mata, yang selama ini di sapu dengan tissu diwajahnya.
- Bersambung -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar