Pages

Selasa, 10 Januari 2012

Gadis di Bus Menuju Tanjung Perak (Bagian 1)

Pagi ini sedikit berbeda dari pagi yang biasanya, bukan karena hari ini puncak balik arus mudik sehingga terminal terasa penuh dan sesak. Terminal yag berjubel dengan banyak orang sudah biasa bagiku, pekerjaanku sebagai kondektur Bus selama bertahun-tahun telah membuatku terbiasa akan ini. Pagi ini terasa berbeda,karena ada seseorang yang menarik perhatianku., seorang gadis berjaket hitam yang berdiri gelisah di pintu masuk itu. Entah mau kemana dan sedang apa dia disana,dia tampak sedikit melamun. Mungkin sedang menunggu seseorang yang mau pergi bersamanya.
Aku mencoba kembali berkonsentrasi pada pekerjaanku pagi ini dan tidak lagi memperhatikannya. Seperti biasa aku mencari penumpang yang hendak pergi dengan Bus ke Tanjung Perak.
“Tanjung perak.. Perak..Perak!!” Teriakku.
Banyak sekali penumpang yang naik bus,pasti hari minggu ini puncak balik arus mudik. Bus ini ialah bus ketiga yang berangkat pagi ini ke tanjung perak. Jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat,tapi belum juga 10 menit aku berteriak mencari penumpang, gadis itu datang menghampiriku.
“Pak, bus ke pelabuhan Tanjung Perak yang mana ya?” Tanya gadis itu.
Agak aneh pikirku,sudah sejak tadi aku perhatikan gadis ini ada disini. Pastinya dia sudah tau yang mana bus ke Tanjung perak,akupun sudah berteriak-teriak memberitahu dan belum lagi papan penunjuk diatas bus yang walau sudah berkarat tapi masih tampak jelas. Mengapa dia masih juga bertanya,sebenarnya apa yang dilakukannya dari tadi.
“Iya ini dek…bus ke Tanjung perak” Kataku sambil menunjuk bus dibelakangku.
“Oh iya..makasih pak” Katanya sambil tersenyum dan masuk ke dalam bus dengan ragu - ragu.
Senyum yang lugu dan manis sekali, pasti anak Mama yang baru pertama kali naik bus pikirku. Ternyata gadis itu tidak sedang menunggu siapa-siapa,dia masuk ke bus seorang diri. Aku bertanya-tanya apa yang sedang dilakukannya dari tadi disini. Kasihan,mungkin sejak tadi dia ragu dan takut salah naik bus. Aku pun tersenyum sendiri sambil geleng-geleng kepala.
“Perak… Perak!!” Lanjutku berteriak mancari penumpang.
Tak berapa lama bus sudah penuh sesak, penjual asongan dan pengamen juga sudah hilir mudik didalam bus. Bus ini sudah sangat tua umurnya,tapi masih tangguh dan sanggup berjalan walau hanya didalam kota saja. Jadi butuh waktu untuk menyalakan mesin dan memanaskannya. Setelah beberapa menit akhirnya bus meraung dan berjalan meninggalkan terminal.

- Bersambung -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar